Trump Ancam Usir Tunawisma dari Washington, Janjikan Ibu Kota “Lebih Aman dan Indah”
Info Marabahan- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memicu kontroversi dengan pernyataan terbarunya soal penanganan tunawisma di ibu kota negara. Dalam unggahan di platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Minggu (10/8/2025) waktu setempat, Trump menyatakan bahwa para tunawisma harus “dipindahkan jauh” dari Washington, D.C., demi mewujudkan kota yang “lebih aman dan lebih indah.”
Pernyataan ini menjadi bagian dari rencana yang lebih luas, di mana Trump mengisyaratkan akan mengambil alih kendali federal atas Washington, yang saat ini dikelola oleh pemerintah daerah terpilih Distrik Columbia di bawah pengawasan Kongres. Sistem ini sudah lama ia kritik, bahkan di masa kampanye, karena dianggap tidak efektif dan terlalu condong ke Partai Demokrat.
“Saya akan membuat ibu kota kita lebih aman dan lebih indah daripada sebelumnya,” tulis Trump. “Para tunawisma harus pindah, segera. Kami akan memberi Anda tempat tinggal, tetapi jauh dari ibu kota. Para penjahat akan segera dipenjara. Semuanya akan terjadi dengan sangat cepat.”
Trump dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin (11/8/2025) untuk memaparkan rincian kebijakannya. Namun, wacana ini sudah lebih dulu menuai perdebatan sengit di kalangan pejabat lokal, aktivis hak asasi manusia, dan pengamat politik.

Baca Juga : Ribuan Umat Doakan Ulama Besar di Haul Ke-130 dan Milad Ke-325
Konteks dan Data Lapangan
Menurut data pemerintah tahun lalu, Washington menempati urutan ke-15 dalam daftar kota besar AS dengan populasi tunawisma terbanyak. Ribuan orang masih menghabiskan malam di jalanan atau di tempat penampungan. Namun, angka ini sebenarnya turun dibandingkan sebelum pandemi COVID-19.
Trump mengklaim ada peningkatan kejahatan yang mengkhawatirkan di Washington, padahal data resmi menunjukkan hal sebaliknya. Statistik kepolisian mencatat bahwa kejahatan dengan kekerasan turun 26 persen pada paruh pertama 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Bahkan, pada 2024, tingkat kejahatan di Washington mencapai titik terendah dalam tiga dekade.
Reaksi Pemerintah Lokal
Wali Kota Washington, Muriel Bowser, menepis klaim Trump soal lonjakan kriminalitas. Kepada MSNBC, Bowser menegaskan:
“Kita tidak mengalami lonjakan kejahatan. Perbandingan apa pun dengan negara yang dilanda perang adalah hiperbolik dan salah.”
Meskipun Bowser tidak secara langsung menyerang Trump, pernyataannya jelas mengisyaratkan penolakan terhadap kebijakan keras yang diusulkan presiden.
Ancaman Militerisasi
Rencana pemindahan tunawisma ini juga dibarengi ancaman pengerahan Garda Nasional untuk “mengendalikan situasi.” Trump sebelumnya sudah pernah mengirim pasukan cadangan militer ke Los Angeles guna meredam protes terkait penggerebekan imigrasi, meski ditentang oleh pejabat setempat.
Langkah-langkah seperti ini semakin mempertegas pola kebijakan Trump yang kerap memanfaatkan kekuatan militer untuk menangani masalah sosial, terutama di kota-kota yang dikuasai Partai Demokrat—sebuah strategi yang sering memicu tuduhan politisasi aparat keamanan.
Potensi Dampak dan Kontroversi
Pengusiran tunawisma ke luar ibu kota menuai kekhawatiran luas. Para aktivis menilai kebijakan ini berisiko melanggar hak asasi manusia, karena memindahkan warga tanpa solusi permanen atas kemiskinan dan akses perumahan. Di sisi lain, pendukung Trump menganggap langkah ini sebagai cara cepat untuk “mengembalikan ketertiban” dan meningkatkan citra Washington sebagai pusat pemerintahan.
Konferensi pers Trump pada Senin diprediksi akan menjadi panggung utama untuk mengumumkan peta jalan kebijakan ini. Namun, apakah rencana tersebut akan berjalan mulus, atau justru menghadapi perlawanan hukum dan protes besar-besaran, masih menjadi tanda tanya.
Yang jelas, langkah Trump ini kembali menunjukkan bahwa isu tunawisma dan keamanan publik akan menjadi medan pertempuran politik antara Gedung Putih dan pemerintah lokal menjelang tahun-tahun terakhir masa jabatannya.
















